mediaislamia.com
Khadijah memiliki nama lengkap yaitu Khadijah
binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Khadijah merupakan anak
perempuan dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti
Za'idah, yang berasal dari
kabilah Bani Asad dari
suku Quraisy. Ia merupakan wanita as-Sabiqun
al-Awwalun (orang-orang terdahulu
yang pertama kali masuk/memeluk Islam. Mereka dari golongan kaum Muhajirin dan Anshar, mereka semua sewaktu masuk Islam berada di
kota Mekkah, sekitar tahun 610 Masehi pada abad ke-7)
Khadijah, menurut riwayat Ibnul Atsir dan Ibnu
Hisyam adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya. Beliau sering
mengirim orang kepercayaan untuk berdagang. Saat mendengar kabar tentang
kejujuran dan kemuliaan akhlak Nabi SAW. Khadijah mencoba memberi amanat kepada
Nabi SAW untuk membawa dagangannya ke Syam (sekarang Palestina, Syria, Lebanon,
dan Yordania).
Khadijah membawakan barang dangan yang lebih baik
daripada biasanya. Dalam perjalanan, Nabi SAW ditemani Maisarah, orang
kepercayaan Khadijah. Nabi SAW berhasil membawa keuntungan yang berlipat ganda,
sehingga menambah kepercayaan Khadijah terhadapnya. Selama perjalanan, Maisarah
kagum kepada Nabi SAW. Semua sifat dan sikap Nabi SAW, Maisarah laporkan kepada
Khadijah.
Kemudian, setelah 2 bulan 20 hari kepulangan Nabi
SAW dari Syam, Khadijah menyatakan hasratnya untuk menikah dengan Nabi SAW
dengan perantara seorang wanita bernama Nafisah binti Muniyah.
Lalu, Nafisah mendatangi Nabi Muhammad SAW, dan berkata:
Nabi SAW. menjawab dengan jujur: “Aku belum mempunyai biaya untuk
menikah.”
Lalu Nafisah berkata: “Jika seandainya ada seorang wanita yang
sangat kaya raya, sangat cantik dan anggun berwibawa, sangat mulia kedudukannya
dan suci kepribadiannya, maukah engkau menikah dengannya?”
Nabi SAW. bertanya: “Siapakah wanita itu?”
Nafisah menjawab: “Dia adalah Sayyidah Khadijah Ra.”
Nabi SAW. lalu berkata: “Bagaimana caranya saya bisa menikah
dengannya?”
Lalu Nafisah pergi menghadap Khadijah dengan membawa kabar baik. Khadijah
RA. juga mengutus Nafisah memanggil pamannya yang bernama Amar bin Asad untuk
menjadi walinya. Pada saat itu pula Nabi SAW. memberitahukan paman-pamannya
akan hal tersebut. Dan mereka pun menyambut berita tersebut dengan penuh
kegembiraan.
Tak lama kemudian beliau Saw. pergi ke rumah Khadijah RA. dengan
didampingi kedua pamannya, Sayyid Abu Thalib dan Sayyidina Hamzah, untuk
melamarnya. Dan juga hadir dalam acara tersebut para bangsawan Quraisy,
diantaranya Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA.
Kemudian Sayyid Abu Thalib melamar Sayyidah Khadijah RA. kepada
pamannya yang bernama Amar bin Asad untuk Nabi SAW. Akhirnya Amar bin Asad pun
menikahkan Khodijah RA. dengan Nabi
Muhammad SAW. dengan mahar 400 dirham yang dibayarkan tunai oleh Sayyid Abu
Thalib. Pada saat itu usia Nabi Muhammad SAW. adalah 25 tahun dan Khadijah
berusia 40 tahun.
Sebelum menikah dengan Nabi SAW, Khadijah pernah menikah dua kali,
namun suaminya telah meninggal dunia. Pertama dengan Atiq bin A’idz at-Tamimi,
dan kedua dengan Abu Halah at-Tamimi; Hindun bin Zurarah.
- Mengenai keutamaan dan kedudukan Khadijah dalam kehidupan Nabi SAW. sesungguhnya ia tetap mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Rasululllah SAW. sepanjang hidupnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ali RA. pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Sebaik-baik wanita (langit) adalah Maryam binti Imran dan sebaik-baik wanita (bumi) adalah Khadijah binti Khuwailid.”
- Rassulullah SAW. sama sekali tidak memperhatikan faktor kesenangan jasadiah. Seandainya Rasulullah memperhatikan hal tersebut, sebagaimana pemuda seusianya, niscaya beliau mencari wanita yang lebih muda atau minimal orang yang tidak lebih tua darinya. Rasulullah SAW. menginginkan Khadijah karena kemuliaan akhlaknya di antara kerabat dan kaumnya, sampai ia pernah mendapatkan julukan ‘Afifah Thahirah (wanita suci) pada masa jahiliyah.
- Pernikahan ini berlangsung hingga Khadijah meninggal dunia pada usia 65 tahun. Sementara itu Rasulullah SAW. telah mendekati usia 50 tahun, tanpa berfikir selama masa itu untuk menikah dengan wanita atau gadis lain. Padahal usia antara 20-50 tahun merupakan bergejolaknya keinginan untuk menambah istri karena dorongan syahwat. Akan tetapi, Muhammad SAW. Tidak pernah berfikir untuk memadu Khadijah. Seandainya beliau mau, tentu akan mendapatkan istri tanpa bersusah payah.
- Para
kalangan missionaris dan orientalis menganggap tema pernikahan Rasulullah
SAW dapat dijadikan sasaran empuk untuk menyerang islam, dan merusak nama
baik Muhammad SAW sebagai seorang seks maniak yang tenggelam dalam
kelezatan jasadiah. Namun nyatanya tidak bisa, seorang pemburu seks tidak
akan hidup bersih dan suci dilingkungan Arab jahiliyah serta tidak akan
pernah bersedia menikah dengan seorang janda tua, lalu hidup bersama
dengan kesetiaan.


0 komentar:
Posting Komentar