Poster Film Teman Tapi Menikah
Untuk kalian penggemar Keluarga Belo pasti sudah tak asing dengan dua buku manis berwarna cerah, berjudul "Teman Tapi Menikah" yang memiliki 2 part. Bagian 1 berwarna Kuning dan bagian 2 berwarna hijau. Seiring berjalannya waktu, akhirnya buku tersebut diangkat ke layar kaca dengan judul yang sama pula.
Bahkan sebelum buku dan filmya dirilis, tagar #temantapimenikah sudah menjadi trending di media sosial. Tnetizen, hingga memiliki 1,6jt penonton. Wow!
Berikut adalah beberapa ulasan film "Teman Tapi Menikah" :
1. Adegan pembuka yang asik dan epic
Perkusi yang menjadi ciri khas dari ditto menjadi pembuka yang epic, dengan latar belakang kafe yang intagramable. Musik yang dihasilkan berasal dari beberapa peralatan dan suara yang ada di kafe. Pembukaan yang asik, akan membuat penonton terpukau dan menjadi penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Bersetting di tahun 2000-an, film ini tetap mengemas dengan konsep yang kekinian. Pembuka yang bagus untuk film yang menyenangkan.
2. Cinta sama sahabat sendiri
Bagaimana rasanya jatuh cinta dengan sahabat sendiri, dan memendamnya selama bertahun-tahun? Sebuah kisah klasik yang mungkin dihadapi oleh banyak orang, Ayu dan Ditto salah satunya. Film ini dapat mendeskripsikan dengan baik bagaimana awal Ayu dan Ditto saling mengenal, bersahabat, hingga akhirnya bersama sebagai sepasang kekasih. Ralat. Sepasang suami istri. Memang benar ya sebuah kalimat "Jodoh nggak akan kemana".
3. Peran Adipati dan Vanesha
Dalam film diceritakan, Adipati sebagai Ditto dan Vanesha sebagai Ayu. Tingkah laku dan sifat Ditto yang nyeleneh sangat cocok dengan Adipati. Untuk kalian penggemar Adipati, mungkin kalian akan berkata "Wah Adipati cocok jadi Ditto banget deh!", yap setuju! Adipati amat sangat memerankan film ini dengan baik, bahkan dilihat dari vlog Ayu Ditto, Adipati sampai berlatih perkusi secara langsung dengan Ditto. Totalitas sekali ya.
Lain halnya dengan Vanesha, tokoh Ayu yang tomboi dan ceplas ceplos, kurang diperankan dengan baik oleh Vanesha. Vanesha yang feminim dan manis harus memerankan adegan tersebut dan sebenarnya agak memaksakan, apalagi saat adegan tertawa dan menangis, terkesan dibuat-buat. Tapi selebihnya, Vanesha sudah berusaha dan cukup membuat penonton puas.
Bicara tentang chemistry keduanya, Adipati dan Vanesha berhasil membangunnya dengan baik. Apalagi dapat dilihat dari kedekatannya di kehidupan nyata. Mereka sudah mengenal satu sama lain dengan baik.
4. Berharap sama seperti buku? Jangan deh
Bayangkan saja. Penantian Ditto selama 12 tahun yang ditulis di buku, lalu difilmkan tidak mungkin dikisahkan semuanya bukan? Memang ada beberapa adegan dibuku yang tidak ada dalam film, namun film ini tetap mengemas plotnya dengan baik dan urut. Tidak ada peran antagonis ataupun konflik yang berat. Konflik yang menarik ialah Ditto yang memendam rasa pada Ayu selama bertahun-tahun, hingga akhirnya memiliki keberanian untuk menyatakan dan akhirnya menikah. Sementara Ayu yang gonta-ganti pacar untuk mengalihkan perasaannya pada Ditto yang tanpa dia sadari, dia punya menyayangi Ditto lebih dari seorang sahabat. "Teman Tapi Menikah" memang memiliki konflik yang ringan, namun tetap membuat penonton kagum dan menyukai film ini selepas menonton.
5. Akhir film yang menggemaskan
Adegan terakhir film ini dibuat sangat nyata dengan menghadirkan tokoh aslinya yaitu Ayu dan Ditto. Tak hanya itu, dengan permainan angle kamera yang baik, pergantian waktu dari Adipati dan Vanesha kemudian menjadi Ayu, Ditto, dan Sekala yang sedang duduk sambil tertawa membuat para penonton akan gemas sendiri. Untuk kamu yang memiliki kisah yang sama, siapkan tisu ya! Adegannya memang tidak menyedihkan, tapi mengharukan hehehe.
Dari semua review di atas. Film ini mengajarkan banyak hal. Bagaimana mencintai seseorang dengan ikhlas, menjadi anak muda yang keren dan dapat mewujudkan mimpi, keberanian menyatakan cinta, dan menyayangi satu sama lain dengan baik. Difilm ini memang tidak ada kalimat "i love you" atau "aku cinta kamu", namun Ayu dan Ditto dapat memberikan penggambaran bagaimana mencinta dengan tulus.







0 komentar:
Posting Komentar